Social Icons

Selasa, 19 Maret 2013

Memulai,, sedang memulai ini

     Malam ini begitu dingin, menyerbu seluruh penjuru bumi untuk saling mencari kehangatan. Mencoba menghela nafas, memenjamkan mata dan membuka perlahan. Tulisan-tulisan yang dulu pernah tersketsakan oleh sebuah masa lalu. Membuka secara perlahan lembar demi lembar, dan kutemukan sebuah melodi rapi tentang hal itu. Mengulangi kembali, perjalanan yang sempat tehenti mecoba kembali merasakan bagaimana berbagi.
     Ingin kutuliskan sebuah kisah bernada tinggi (menurutku), untuk sebuah pengalaman pribadi. Membuka lembaran baru, kucoba tulis apa yang sedang ada dalam jalan fikiranku. Mengeja satu dua huruf merangkai tiga empat kata dan menjadikannya kalimat yang begitu ritmis untuk diperbincangkan. Cukup sederhana, bagaimana rangkaian itu membuatku bersandar pada tepatku berdiri sekarang. Membayangkan dan menggerakkan bola mataku, untuk mencapai bahasa yang bersinergi dengan simponi kehidupan.
Berbicara tentang sebuah kehidupan...
      Kita bersuara, menyairkan tingkatan irama untuk memainkan ritme nada. Menghalau sebuah akal mencari titik temu tentang kehidupan. Tak harus diam, tak harus menatap kosong pada sebuah bayangan. Cukup berfikir, menyatukan komponen-komponen perca ide yang berserakan untuk siap disatukan. Mengeluarkan suara untuk memberikan satu masukan yang masuk akal, bukan hanya dengan bahasa denotasi yang menjelaskan tapi juga sebuah kata berkonotasi yang harus berfikir puluhan kali demi pemahaman.
     Kita beranjak dan memulai. Kita melemah dan akhirnya berakhir. Tertawa untuk menertawakan kehidupan. Bermain untuk sebuah permainan konyol kehidupan. Menangis karena tangisan untuk sebuah kehidupan. Memberontak karena kehidupan. Kehidupan itu seperti kita memasuki ruangan, kita melakukan sesuatu hal dan kita pergi meninggalkan ruangan itu dengan keadaan yang sepi. Awalnya hanya menjelajah dengan jarang sempit, kemudian melebar menjadi besar lalu tak mampu menahan.
     Berteman dengan sebuah kesenyapan, beradu dengan kesunyian. Membunyikan dentingan jarum jam untuk sebuah detik-detik kehidupan. Sebenarnya kita sendiri, dilepas sendiri, beradu akting sendiri, mamainkan skenario sendiri semuanya sendiri bahkan untuk mati pun kita juga akan sendiri. Meninggalkan kehidupan dengan bahasa kefanaan.
    Demikianlah hidup, bersaing untuk mewarnainya dengan kanvas keindahan. Membaurkan warna demi pelangi kehidupan. Bersemangat membangun batin untuk melangkah lebih jauh dalam setiap fase demi fase. Merangkul kembali rasa cinta kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah tujuan dari segala tujuan. Dimana gemuruh keterasingan melumat perlahan, damaikan jiwa dan tetap pada kondisi awal. Kita bukan pahlawan yang kuat tiada tandingan, ataupun malaikat yang penuh dengan kesaktian. Kita hanya makhluk kecil, tak berdaya, rapuh dan sangat hina dina.
Kehidupan manusia, kehidupan makhluk semesta. Bertuliskan indah dengan segala rencana-Nya. Jaminan sudah pasti, tergantung bagaimana kita memainkannya, memahami alurnya dan berjalan dengan fitrah semestinya. Konsentrasi dengan jalan tegas yang sedang kita jalani

>> Gadis Ungu Muda #1 (Read More).

We're STRONG !

Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain. Namun, kemenangan atas diri sendiri. Berpacu di jalur keberhasilan diri adalah pertandingan untuk mengalahkan rasa ketakutan, keengganan, keangkuhan, dan semua beban yang menambat diri di tempat start. Jerih payah untuk mengalahkan orang lain sama sekali tak berguna. Motivasi tak semestinya lahir dari rasa iri, dengki atau dendam. Keberhasilan sejati memberikan kebahagiaan yang sejati, yang tak mungkin diraih lewat niat yang ternoda. Pelari yang berlari untuk mengalahkan pelari yang lain, akan tertinggal karena sibuk mengintip laju lawan-lawannya. Pelari yang berlari untuk memecahkan recordnya sendiri tak peduli apakah pelari lain akan menyusulnya atau tidak. Tak peduli dimana dan siapa lawan-lawannya. Ia mencurahkan seluruh perhatian demi perbaikan catatannya sendiri. Ia bertading dengan dirinya sendiri, bukan melawan orang lain. Karenanya, ia tak perlu bermain curang. Keinginan untuk mengalahkan orang lain adalah awal dari kekalahan diri sendiri.

Ingat Mati maka Kau akan Bahagia

                Umumnya, seseorang baru sadar aka pentingnya berkomunikasi dengan Alloh saat ia benar-benar terdesak dan terjepit. Seseorang baru sadar akan pentingnya segera bertaubat saat ia sakit parah. Seseorang baru sadar akan bahaya berjudi setelah hartanya habis. Seseorang baru sadar betapa berharganya waktu, ketika ia hampir kehilangan waktu. Seseorang baru menyadari mahalnya umur ketika ia pernah hampir mati. 

Tidak semua hal yang negatif itu selalu buruk. Bahwa hal yang tampak membahayakan itu pasti jelek, tidak selamanya begitu. Justru, dari hal-hal negatif atau mara bahaya, manusia dapat berubah menjadi baik dan lebih baik. Karena peristiwa jatuhlah, manusia mampu bangkit dan tidak jatuh lagi. Karena kegagalan itulah, manusia bisa mencapai kesuksesan. Akibat dosa, manusia menjadi hamba yang bertaubat dan shalih. Sesuatu yang bisa menghasilkan trauma negatif, juga bisa menghasilkan trauma positif.

            Kegembiraan hidup ini dimulai saat kita sadar bahwa setiap hari kita diizinkan Allah bangun pagi untuk menjadi manusia baru, yang lebih baik dari hari kemaren. Bahwa ada kado baru yang sedang disisipkan untuk kehidupan kita hari ini.

Saat kita membuka mata di pagi hari, kita putuskan hubungan dengan masa lalu yang buruk. Kita hadirkan kayakinan bahwa kita telah dihidupkan kembali oleh Allah. Hari ini kita adalah manusia baru. Karena itu, jangan kembali ke manusia lama, manusia kemaren. Beban hidup kemaren sudah cukup, lupakan dan tinggalkan. Jangn dibawa-bawa lagi hari ini. Jangan diingat-ingat. It was death already last night.

Jika saja setiap malam diartikan sebagai perjalanan meuju kematian, dan setiap pagi diartikan sebagai kehidupan baru. Jika saja setiap momen tidur digunakan untuk bermuhasabah dan mengevaluasi diri, dan setiap bangun tidur digunakan untuk memperbaiki diri.

No More

Aku hanya bisa merapat ke dinding yang tak rata
Karena memang ini yang ku alami
Menggoreskan kulit dengan sengaja
Penuh luka dan arah penuh dengan ratapan
Haruskah aku cemburu pada ketulusan
Tidak... Tidak akan pernah
Aku kan mencoba memperhalus dengan caraku
Dengan ini aku akan bisa merasakan kasar terlebih dahulu
Berat jadinya ketika semua yang semestinya tak seperti itu
Tapi hanya pungkiran tak berdalih kesetiaan artinya
Senyum ,,, dan merabanya
Derita,, dan indahnya
Beban tapi yang begitu ringan
Dan sebuah rasa yang takakan pudar
Aku menjalaninya dengan seluruh
Yakin ku tanamkan pada otak
Dan aku harus berlari ,,,
Melanjutkan caraku bagaimana berlari
Melanjutkan caraku bagaimana behenti

Senin, 18 Maret 2013

Cinta Seorang Anak Gembala

Pada zaman dahulu, hidup seorang gembala yang bersemangat bebas. la tidak punya uang dan tidak punya keinginan untuk memilikinya. Yang ia miliki hanyalah hati yang lembut dan penuh keikhlasan; hati yang berdetak dengan kecintaan kepada Tuhan.

Sepanjang hari, ia menggembalakan ternaknya melewati lembah dan ladang melagukan jeritan hatinya kepada Tuhan yang dicintainya, "Duhai Pangeran tercinta, di manakah Engkau, supaya aku dapat persembahkan seluruh hidupku kepada-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menghambakan diriku pada-Mu? Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernapas. Karena berkat-Mu aku hidup. Aku ingin mengorbankan domba-Ku ke hadapan kemuliaan-Mu."

Suatu hari, Nabi Musa melewati padang gembalaan tersebut. la memperhatikan sang Gembala yang sedang duduk di tengah ternaknya dengan kepala yang mendongak ke langit. Sang gembala menyapa Tuhan, "Ah, di manakah Engkau, supaya aku dapat menjahit baju-Mu, memperbaiki kasur-Mu, dan mempersiapkan ranjang-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu?"

Musa mendekati gembala itu dan bertanya, "Dengan siapa kamu berbicara?"

Gembala menjawab, "Dengan Dia yang telah menciptakan kita. Dengan Dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang dan malam, Bumi dan langit."

Nabi Musa murka mendengar jawaban gembala itu, "Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumbat mulutmu dengan kapas supaya kamu dapat mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak menjadi marah dan tersinggung dengan kata-katamu yang telah meracuni seluruh angkasa ini. Kau harus berhenti bicara seperti itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan menghukum seluruh penduduk bumi ini akibat dosa-dosamu!"

Sang Gembala segera bangkit setelah mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang nabi. Ia bergetar ketakutan.

Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, ia mendengarkan Nabi Musa yang terus berkata, "Apakah Tuhan adalah seorang manusia biasa sehingga Ia harus memakai sepatu dan alas kaki? Apakah Tuhan seorang anak kecil yang memerlukan susu supaya Ia tumbuh besar? Tentu saja tidak. Tuhan Maha sempurna di dalam diri-Nya. Tuhan tidak memerlukan siapa pun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tetapi kau juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo, pergi dan minta maaf, kalau kau masih memiliki otak yang sehat!"

Gembala yang sederhana itu tidak mengerti bahwa apa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang kasar. Dia juga takmengerti mengapa nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai seorang musuh, tetapi ia tahu betul bahwa seorang nabi pastilah lebih mengetahui daripada siapa pun. Ia hampir tak dapat menahan tangisannya.

Ia berkata kepada Musa, "Kau telah menyalakan api di dalam jiwaku. Sejak ini, aku berjanji akan menutup mulutku untuk selamanya." Dengan keluhan yang panjang, ia berangkat meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.

Dengan perasaan bahagia karena telah meluruskan jiwa yang tersesat, Musa melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba-tiba, Allah Yang Mahakuasa menegurnya, "Mengapa engkau berdiri di antara Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pecinta dari yang dicintai-nya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau dapat menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan di antaranya."

Musa mendengarkan kata-kata langit itu dengan penuh kerendahan dan rasa takut.

Tuhan berfirman, "Kami tidak menciptakan dunia supaya Kami memperoleh keuntungan darinya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak memerlukan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah, bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memperhatikan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang Kami perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui ketulusan makhluk Kami walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna."

Suara dari langit selanjutnya berkata, "Mereka yang ter-ikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta dan umatyang beragama bukanlah umatyang mengikuti cinta karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri." Tuhan kemudian mengajarinya rahasia cinta.

Setelah memperoleh pelajaran itu, Nabi Musa mengerti kesalahannya. Sang Nabi pun merasa menderita penyesalan yang luar biasa. Dengan segera, ia berlari mencari gembala itu untuk meminta maaf. Berhari-hari, ia berkelana di padang rumput dan gurun pasir, menanyakan orang-orang apakah mereka mengetahui pengggembala yang dicarinya.

Setiap orang yang ditanyainya menunjuk arah yang berbeda. Hampir, ia kehilangan harapan, tetapi akhirnya Allah Swt. mempertemukannya dengan gembala itu. Ia tengah duduk di dekat mata air. Pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut masai. Ia berada di tengah tafakur yang dalam sehingga ia tidak memperhatikan Musa yang telah menunggunya cukup lama.

Akhirnya, gembala itu mengangkat kepalanya dan melihat Nabi Musa.

Musa berkata, "Aku punya pesan penting untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku bahwa tidak diperlukan kata-kata yang indah bila kita ingin berbicara kepada-Nya. Kamu bebas berbicara kepada-Nya dengan cara apa pun yang kamu sukai, dengan kata-kata apa pun yang kamu pilih. Apa yang aku duga sebagai kekafiranmu ternyata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia."

Sang Gembala hanya menjawab sederhana, "Aku sudah melewati tahap kata-kata dan kalimat. Hatiku sekarang dipenuhi dengan kehadiran-Nya. Aku takdapat menjelaskan keadaanku padamu dan kata-kata pun tak dapat melukiskan pengalaman ruhani yang ada dalam hatiku." Kemudian, ia bangkit dan meninggalkan Nabi Musa.

Utusan Allah ini menatap sang Gembala sampai ia tak terlihat lagi. Setelah itu, ia kembali berjalan ke kota terdekat, merenungkan pelajaran berharga yang didapatnya dari seorang gembala sederhana yang tidak berpendidikan.
Doa sejati yang paling tinggi adalah perenungan Tuhan dengan kalbu yang murni, yang terlepas dari semua hasrat keduniawian, tidak terpaku pada sikap-sikap jasmaniah, tetapi dengan gerak-gerik jiwa. (Ibnu Sina)


 
 
Blogger Templates