Social Icons

Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Mei 2013

Membangun Kemampuan Berpikir (Sebuah Upaya Menggapai Hidayah)

Kemampuan berfikir adalah anugerah luar biasa yang diterimakan kepada ummat manusia. Dengan kemempuannya ini manusia mampu membangun kesadaran tingkat tinggi hakekat keberadaannya, dapat menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya, dan mampu menyelenggarakan peradaban dengan tata nilainya. Dengan berfikir manusia dapat melakukan pertimbangan untuk mencari kebenaran, melakukan berbagai aktivitas hidup lainnya. Aktivitas berfikir merupakan serangkaian proses penalaran memanfaaatkan berbagai macam pengetahuan, pemahaman, pengalaman, dan kadang juga impresi dan intuisi yang dimilinya. Semakin memiliki jangkauan ke depan, semakin luas dan semakin komprehensif (menyeluruh) pertimbangan sebuah pikiran akan semakin memiliki makna, dan semakin mendekati kebenaran.
Di sinilah keunikan proses berfikir seorang manusia, karena dasarnya pengetahuaanya selalu menjadi pembatas tersebut selalu dapat diperluas dan digeser. Demikian seterusnya sehingga selalu ada perbaikan hasil berpikir. Kemampuan berfikir adalah anugerah luar biasa yang diterimakan kepada ummat manusia. Dengan kemempuannya ini manusia mampu membangun kesadaran tingkat tinggi hakekat keberadaannya, dapat menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya, dan mampu menyelenggarakan peradaban dengan tata nilainya. Dengan berfikir manusia dapat melakukan pertimbangan utnuk mencari kebenaran, melakukan berbagai aktivitas hidup lainnya. Aktivitas berfikir merupakan serangkaian proses penalaran memanfaaatkan berbagai macam pengetahuan, pemahaman, pengalaman, dan kadang juga impresi dan intuisi yang dimilinya. Semakin memiliki jangjauann ke depan, semakin luas dan semakin komprehensif (menyeluruh) pertimbangan sebuah pikiran akan semakin memiliki makna, dan semakin mendekati kebenaran. Di sinilah keunikan proses berfikir seorang manusia, karena dasarnya pengetahuaanya selalu menjadi pembatas tersebut selalu dapat diperluas dan digeser. Demikian seterusnya sehingga selalu ada perbaikan hasil berpikir.
Kita memiliki Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber pengetahuan yang benar yang harus dipahami melalui proses berpikir. Pengalaman dalam mengatasi permasalahan hidup akan menambah pengetahuan dan perubahan mental, sedangkan pengendalian terhadap perasaan dan nafsu berarti meenghindari subyektivitas untuk memunculkan kejernihan proses berpikir. Ketika seseorang berpikir dan pikiran itu tentang sebuah permaslahan yang mengait erat dengan kepentingan dirinya, seringkali akan melibatkan emosi dan bersifat streotype (pengetahuan yang diperoleh malaui kesan), sehingga menghasilkan hasil yang kurang obyektif (bias). Pikiran -pikiran seperti itu umumnya kurang bernilai universal, cenderung salah dan kurang rahmatan lil alamin. Dipandang dari sudut ini, penyikapan yang benar terhadap setiap masalah dan kesulitan hidup adalah penting. Setiap masalah dan kesulitan hidup adalah anugerah yang pantas disyukuri.
Kesadaran terhadap hakekak penciptaan alam semesta merupakan suatu hasil dari proses berpikir yang berkualitas. Kerendahan hati dan kesadaran terhadap keserba-terbatasaan diri memiliki kontribusi nyata terhadap kejernihan berpikir, sebaliknya kesombongan akan menuntun kepada pada kesalahan berpikir karena akan sangat menonjolkan subyektivitas. Untuk itulah kita harus selalu memohon perlindunganNya agar dapat memiliki kekuatan mental dan kemampuan mengendalikan diri serta memohon agar selalu diberi petunjuk untuk memperoleh jalan yang lurus yaitu jalan yang menghasilkan anugrah kenikmatan dan bukan jalan bagi mereka yanag dimurkai dan disesatkan. Allah hanya memberikan hidayah bagi yang dikehendakiNya, namun berpikir untuk mencari kebenaran adalah tugas manusia. Kebenaran akan menuntun kepada keselamatan. Marilah kita menggapai ridho dan hidayah Allah SWT dengan membangun kemampuan berpikir yang berkualitas yang merupakan anugerah utama kita sebagai manusia ciptaan Allah yang paling mulia. Semoga kita dapat selamat dan dapat mengakhiri hidup dengan khusnul khotimah, amin.
( Prof. H. Sutiman B.S )

Kamis, 18 April 2013

Menahan Diri dari Pujian

Suatu hari saat berkumpul bersama para sahabat. Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya diantara pepohonan,ada 1Pohon, yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang Muslim, sebutkanlah kepadaku pohon apakah itu?”. 

Para sahabat menerka dengan menyebut pohon-pohon di sekitar lembah, tapi tak satu pun jawaban yang benar.
Rasulullah berkata, “Ia adalah pohon kurma."

Di tengah kumpulan para sahabat kibar (tokoh sahabat) itu, ada seorang anak kecil. Ia ingin ikut menjawab, namun karena hormat kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, dan sahabat senior lainnya, ia mengurungkan niatnya.

Dalam lanjutan hadits ini, Abdullah bin Umar—si anak kecil cerdas—bertutur, 
“Saat itu terbesit dalam diriku bahwa, pohon itu pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.”

Sahabat, bergaul dengan banyak orang memberikan peluang kepada kita untuk banyak mengambil hikmah dan pelajaran. Dari pergaulan, kita mengenal secara nyata mana sikap baik dan buruk, mana yang menyenangkan dan meresahkan, mana yang membuat orang lain nyaman dan tidak, dan sebagainya.

Beragam kondisi dan sikap orang lain yang kita temui tak seharusnya membuat kita merasa terbaik, merasa paling tahu atau merasa lebih dari orang lain. Pergaulan itu sesungguhnya mendatangkan sikap sadar diri bahwa kita perlu banyak belajar. 

Itulah sebabnya Allah swt mengingatkan di surat An-Najm ayat 32, 
“(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Maha luas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.”

Sahabat, dalam konteks pergaulan kita dengan orang yang usianya lebih tua, Ibnu Umar mencontohkan bagaimana kita harus selalu sadar diri. 

Malu Ibnu Umar dalam majelis itu bukan karena ia pemalu, tapi karena rasa hormat terhadap para tokoh sahabat. Ia menahan diri untuk memperlihatkan kecerdasannya, karena khawatir mendapat pujian yang membuatnya tinggi hati, ia lebih suka berhati-hati terhadap segala kemungkinan hinggapnya “rasa” yg akan menodai hatinya. Ibnu Umar memilih untuk tidak populer di forum itu demi keselamatan hatinya.

Demikianlah Ibnu Umar ,ia dikenal sebagai sahabat yang tak ingin terlihat menonjol di antara tokoh sahabat lainnya. 

Di tengah hiruk-pikuk kemajuan ilmu pengetahuan dan informasi ini, mampukah kita menjadi sosok seperti Ibnu Umar? yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, namun selalu menjaga kebersihan hati untuk tidak haus pujian?

Sebenarnya lebih ke cerita tentang Ibnu Umar yang mempunyai kecerdasan namun selalu menjaga kebersihan hati untuk tidak haus pujian.

Semoga Sahabat semua bs mengambil hikmah dari cerita tersebut, dan selalu menjaga kebersihan hati untuk tidak haus pujian.  

"Dia, meyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin." (QS. Lukman:20).

wallahualam bi shawab

Senin, 01 April 2013

Kritik dan Pujian, Bagaimana ?

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.
Surat Fushilat ayat 34 dan 35
Yang perlu kita perhatikan :

Jangan sekali-kali kita tertipu oleh perasaan sendiri, karena pujian orang lain. sebab itu adalah racun. kebanyakan para pemuja itu hanya bohong semata, bahkan tak jarang dengan maksud tertentu agar kita mudah diperdaya atau ditipu.

Jangan menjadi pendusta dengan cara menyembunyikan maksud buruk dibalik kata pujian, sebab ini akan membawa kepada kegemaran berkata dusta.

Jika kita menemukan orang yang suka berterus terang, berani mengkritik kita,maka dialah teman yang sebenarnya,sbb teman sejati tidak akan rela sahabatnya terjerembab kejurang kesalahan,maka dekatilah dia.

Kalau kita menemukan kesalahan pada diri orang lain,maka nasihatilah dengan bijak dan santun, jangan sekali-kali menggunakan kata kotor, sbb itu akan menyakiti hatinya.


ref:tanbihun.com

Ikhlas itu...

    Kehidupan yang Allah ciptakan tidak lebih sebenarnya untuk menguji siapakah diantara hamba-hamba-Nya yang paling banyak dan paling baik amalannya. Beramal adalah inti dari eksistensi (keberadaan) manusia di dunia, karena tanpa amal otomatis manusia akan kehilangan fungsi dan peran utamanya dalam menegakkan khilafah sebagai khalifah (wakil Allah) di muka bumi.
 
Sifat Ikhlas dibagi dalam 3 macam:

1.Ikhlas Awam, yaitu: Dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan rasa takut terhadap siksa Allah dan masih mengharapkan pahala.
2.Ikhlas Khawas, yaitu: Beribadah kepada Allah karena didorong dengan harapan supaya menjadi orang yang dekat dengan Allah, dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan sesuatu dari Allah SWT.
3.Ikhlas Khawas al-Khawas adalah: Beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Allah-lah Tuhan yang sebenar-benarnya.

Dari penjelasan diatas, ikhlas tingkatan yang pertama dan kedua masih mengandung unsur pamrih (mengharap) balasan dari Allah, sementara tingkatan yang ketiga adalah ikhlas yang benar-benar tulus dan murni karena tidak mengharapkan sesuatu apapun  dari Allah kecuali ridla-Nya, tingkatan ini hanya di miliki oleh orang-orang yang arif bi Allah .

Imam Al-Ghazali mengatakan:

هَلَكَ النَّاسُ كُلُّهُمْ إِلاَّ الْعُلَمَاءْ , وَهَلَكَ الْعُلَمَاء كُلُّهُمْ إِلاَّ الْعَامِلِيْنَ ,
وَهَلَكَ الْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ إِلاَّ الْمُخْلِصِيْنَ , وَالْمُخْلِصُوْنَ عَلىَ خَطْرٍ عَظِيْمٍ
Artinya:
”Setiap manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu, dan orang yang berilmu akan binasa kecuali yang beramal (dengan ilmunya), dan orang yang beramal juga binasa kecuali yang ikhlas (dalam amalnya). Akan tetapi, orang yang ikhlas juga tetap harus waspada dan berhati-hati dalam beramal.

Perjalanan Hidup Manusia

Manusia diciptakan oleh Allah hanya untuk beribadah kepada-Nya. Untuk mencapai tujuan itu manusia dibekali dengan akal yang dengannya diharapkan manusia mampu memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah. Disamping dianugerahi akal, manusia juga diberikan nafsu. Pergaulan dengan manusia lain tidak semata berdampak positif, tapi juga meninggalkan bekas keburukan bagi manusia itu sendiri.

Dalam kitab Abiyanal Hawa’iz juz 6, Syaikh Ahmad Rifa’i memberikan satu tamsil perjalanan manusia dengan perumpaan yang sangat indah ;
Perjalanan hidup manusia itu laksana SEBUAH PERAHU,  

LAYARNYA adalah niat didalam  hati yang menginginkan kehidupan kelak diakhirat, kekal disurga-Nya. TIANGNYA LAYAR adalah menunaikan kewajiban dan menjauhi larangan-Nya. KEMUDINYA ialah iman yang kuat, JANGKARNYA adalah Sabar, memepertahankan diri dari marabahaya.  Kompasnya adalah ikhlas, semata-mata hanya karena Allah, sebagai pertanda ikhlash ia melaksanakan ibadah dengan dibekali ilmu pengetahuan yang cukup, sehingga ibadahnya sah sesuai dengan syari'at.

Dalam sebuah pelayaran, kita juga dituntut mengetahui marabahaya yang akan menghadang pelayaran kita, selanjutnya memohon kepada Allah SWT, rahmat-Nya diiabaratkan angin yang akan membawa kita ke arah tujuan semula. Sedangkan dagangannya adalah amal ikhlash. Mu’alimnya ialah ma’rifat kepada Allah. dan adat kebiasaan didunia merupakan ombak yang akan mengombang-ambingkan kapal kehidupan kita. 
 
Orang yang mengajak durhaka kepada-Nya ditamsilkan sebagai bajak laut, yang akan merampas dagangan kita, bukan hanya merampas harta, mereka juga akan memboyong kita, jadilah kita budak yang tanpa daya ditangan para bajak laut yang kejam. Anehnya banyak dari kita yang , tapi malah senang dan akhirnya berkawan dengan bajak laut

Kamis, 21 Maret 2013

Syaikh Ibnu Aththoillah #1

“Ilmu yang bermanfaat adalah yang sinarnya melapangkan shudur (dada), dan membuka hijab qalb (hati). Sebaik-baik ilmu tersebut, yang disertai oleh rasa takut (al-khasya’) kepada Allah SWT. Jika ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah menguntungkanmu, jika tidak, itu bahaya bagimu.”

Syekh Fadhlala Haeri ra. mensyarah sbb:
Ilmu adalah sumber kekuatan. Jika kita tidak mendekatinya dengan sikap yang benar, ia akan membuat kita menderita dan menguasai kita. Kita hendaknya memiliki kepekaan, kesadaran, kewaspadaan, dan kehati-hatian agar kita dapat mengambil manfaat dari ilmu sejati.

Sedangkan kehidupan kita terbatas sesuai dengan jumlah hari kita hidup dan kesempatan yang datang. Sekali kita mengabaikan satu peluang besar, ia takkan pernah datang lagi. Terdapat siklus dan titah (amr) yang alamiah. Jika kita tidak menyikapinya dengan tepat, maka siklus dan titah itu niscaya melindas kita.

Sedangkan Ustadz Salim Bareisy ra. memberikan syarahnya sbb:
Ilmu yang bermanfaat itu ma’rifat (mengetahui) Dzat, Sifat, Asma dan Af’al (Perbuatan) Allah SWT. Juga mengerti bagaimana mengabdi (ubudiyyah) kepada Allah Ta’ala serta beradab (santun) terhadap-Nya.

Nabi Daud as. berkata, “Ilmu di dalam shudur (dada) bagaikan lampu di dalam rumah.”

Imam Malik bin Anas ra. berkata,
“Bukanlah ilmu itu kepandaian atau banyak meriwayatkan, tetapi ilmu itu adalah nur (cahaya) yang diturunkan Allah ke dalam qalb (hati) hamba-Nya. Dan bermanfaatnya ilmu itu untuk mendekatkan (taqarrub) manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”

Junaid al-Baghdadi ra. berkata, 
“Ilmu adalah mengenal Rabb-mu dan tidak melampaui kedudukan dirimu (yakni menyadari kehambaanmu).”

Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya yang sungguh-sungguh takut kepada Allah (yakhsyallaha) dari para hamba itu, hanya al-ulama (orang-orang yang berilmu/arif.” (QS. Fathir 35:28)

Rasulullah saw. bersabda,“Orang yang menuntut ilmu (tentang Allah) itu Allah jamin rezekinya.”

Rasulullah saw. juga bersabda,”Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayapnya pada orang yang menuntut ilmu, karena gemar pada apa yang dituntutnya. Kemudian Rasulullah saw berlindung kepada Allah,”Allahumma inni a’uudzu bika min ilmin laa yanfa’ (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat).

Ilmu yang tidak bermanfaat yaitu ilmu yang tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah.

Al-Junaid ra. ketika ditanya, “Apakah ilmu yang bermanfaat itu?” beliau menjawab

,“Ilmu yang dapat mengarahkanmu kepada Allah SWT, dan menjauhkan dari menurutkan hawa nafsu dan syahwatmu.”

Selasa, 19 Maret 2013

Allah yang dekat

Kita akan merasakan kehadiran Allah sangat dekat jika kita mengingat Allah setiap saat. Untuk dapat merasakan kehadiran Allah tersebut, maka kita harus memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terdapat di segala ufuk dan di dalam diri kita. Karena, tanda-tanda tersebut dapat memberikan petunjuk kepada kita agar kembali kepada-Nya. Sungguh alam semesta ini penuh dengan rahasia-rahasia Allah jika kita berusaha untuk menjelaskannya.

Tanyakanlah pada orang-orang buta yang berjalan di tengah-tengah keramaian tapi ia tidak menabrak, siapakah yang telah mengendalikan langkahnya?

Tanyakanlah kepada janin yang hidup seorang diri di dalam perut, siapakah yang telah memeliharanya? Katakanlah kepada seorang bayi yang baru lahir, yang menangis saat kelahirannya, Siapakah yang telah membuatnya menangis?

Bahkan, tanyakanlah kepada susu yang sangat bersih, padahal ia berasal daridarah dan kotoran, siapakah yang telah membuatnya bersih?

Dan, jika kita melihat seekor ular sedang menyemburkan bisanya, tanyakanlah padanya, Siapakah yang telah mengisi bisanya itu? Tanyakan juga, mengapa kau bisa hidup wahai ular, padahal mulutmu penuh dengan busa.

Jika kita melihat nyala api yang emnghadap ke atas, tanyakanlah padanya, siapakah yang telah menjadikanmu demikian?

Jika kita melihat gunung yang menjulang tinggi seakan-akan ia menanduk puncak langit, tanyakanlah padanya, siapakah yang telah menegakkannya?

Inilah keajaiban-keajaiban yang terdapat di alam ini, jikakita mau membuka mata dan telinga. Sungguh, dalam keajaiban-keajaiban itu kita dapat melihat Allah SWT. Dan, jika kita tidak bisa melihat-Nya, ketahuilah bahwa Alloh melihat kita. Pengakuan akan keesaan Alloh sesungguhnya telah diperlihatkan Allah dengan segala perbuatan-Nya. Allah semesta ini bukti kehadiran Allah dekat dengan kita, sehingga apapun yang kita lakukan, pasti Allah mengetahuinya lahir dan batin.

Firman Allah :


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah 2:186)

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 

 
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (al-Baqarah 2: 284).

(Ref:Beginikah rasanya 7 malam pertama di alam Kubur)


 
 
Blogger Templates