Social Icons

Jumat, 25 Januari 2013

Bukan Bayangan Biasa

Terkadang aku harus terbunuh oleh lamunan yang tak bermakna ketika bayanganmu yang semu terhempas dan sempat menjadi kabur di pelipuk mataku.Aku pun tak mencoba untuk memperjelas pandanganku untuk tau siapa kamu, yang jelas aku akan diam dan melihat tingkahmu yang samar-samar.Aku pun juga tak ingin bergerak karena aku takut akan mengejarmu yang jelas-jelas begitu maya untukku.Bukankah aku sudah bilang bahwa semua yang tampak semu itu seketika hilang dan musnah ketika tanpa kejelasan, pernyataan dan ketegasan.Tak mungkin jika jiwa harus mencari sebuah jawaban ketika sebuah kenyataan saja tak akan bisa dipegang dengan cekatan oleh kelembutan. Aku tak akan mungkin bisa berpegang pada sesuatu yang aku sendiri untuk menyentuhnya saja tak mampu.Jangankan menyentuhnya melihatnya  pun terkadang aku merasa buta karena ketidakmampuanku memperhatikan sesuatu yang fana. Mungkin dengan posisiku yang diam ini sebuah bayangan itu lambat laun akan menjadi sebuah benda nyata yang akau bisa merasakan keberadaannya, membelai kelembutannya, memadu dengan jiwanya. Bukan mengharap atau memimpikan sesuatu yang tidak pasti, tapi mencoba utuk mengurai sebuah teka-teki yang berserakan untuk diselesaikan. Hidup untuk memebuka, mengeja, membaca sebuah tulisan indah kemudian mulai menulis semua lajur yang siap tuk di lewati. Hidup yang tak hanya mengejar bayangan semu yang kosong. Hidup yang dengan keyakinan mempu membuatnya berdiri dengan mewujudkan sebuah  harmoni. Siapa kamu wahai bayangan di sana, inilah hidupmu dan inilah hidupku. Bergembiralah ketika suatu saat ternyata kita saling menyapa, siapa kamu dan siapa aku. Sebuah ketetapan yang pasti , aku mencoba menahan semua dengan diamku.

-@Afipip-
28 November 2012

Kamis, 24 Januari 2013

#MulaiLagi

Baiklah, ini adalah Blog ke-4 (baca:empat) saya. Bukan karena saya gampang bosan atau apa, tapi mungkin lebih ke tingkat daya ingat saya yang kurang maksimal. Menghafalkan begitu banyak kata sandi.

~Oh tidaak,,, itu sangat membuat saya Gila. Cukup !!!

Saya mulai [lagi] untuk yang ini. Sekian

Selasa, 15 Januari 2013

you said, "Rise in love"


Sofi hanya bisa menatap dengan pandangan kosong, meneruskan tulisannya. Tak jarang tetesan kristal air mata itu mengayun indah di dahan pipinya. Jiwa Sofi terlalu jauh untuk merasakan kasakitan ini.

"Cinta kau membuatku jatuh, jatuh begitu dalam. Jatuh yang membuat ragaku sulit untuk bangkit kembali. Begitu lemah, sulit untuk terbaca bagaikan lembayung yang tak sanggup berdiri tegap di atas tangkai kokohnya. Cinta Lembutmu keras dan kerasmu terkadang takj bisa melembutkan. Kasar, yang membuatku kesakitan. Tamparan yang tak Cuma-Cuma kauhaturkan, begitu kasar. Sekasar karang yang berdiri angkut di aliran air laut pantai itu, terlihat jelas di singgasana mercusuar. Ombak pun tak sanggup mengalahkanmu."

Maafkan aku jika aku mulai menyukaimu
Maafkan aku jika aku sekarang menaruh hati padamu
Maafkan aku jika aku sering memimpikanmu
Maafkan aku jika aku sekarang sedang membayangkan rona wajahmu
Maafkan aku jika memang aku mencintaimu
Kalaupun saat ini engkau tahu
Betapa aku sangat mengharapmu
Menjadi sebuah tujuan hidupku
Menggapaimu dengan cinta indahku
Sadarkah bila dirimulah yang aku mau
Ketika aku mulai jatuh cinta
Saat itulah aku ingin membangun cinta
Walaupun terkadang jalanku untuk menggapaimu
Sangat sulit dan penuh dengan badai dan gelombang yang terjal
Tapi akan aku buktikan aku mampu untuku menggapaimu
Karena aku bukan pecundang yang hanya bermodal kata kiasan
Karena aku sungguh ingin menjadikanmu sebagai pegangan
Tak ada kata setengah-setengah dalam mencintaimu
Tak ada kata ragu untuk meluluhkanmu
Dan tak akan ada kata menyerah untuk mengejar cinta sucimu

Hari-hari Sofi tanpa Azil. Sofi harus kehilangan waktu-waktu bersama Azil, memandang, menyentuh, bercakap dengan Azil pun Sofi tak mampu. Dia hanya bisa mengabadikan senyuman manis Azil, berusahamenghadirkan bayangan Azil sosok pria yang lambat laun masuk ke dalam ruang hati Sofi.

Terlalu cepatkah aku...Merasakan kehilangan atas kehadiranmu, Aku sakit jika aku diam, Tapi aku juga tak sanggup jika harus menjemputmu untuk masuk ke dalam hunian cintaku. Azil maaf aku harus mencintaimu untuk kali ini....

Jumat, 28 Desember 2012

Percaya kamu akan kembali


Aku mencoba berlari lebih cepat dikala orang-orang sedang santainya berjalan. Aku mencobaberhenti sejenak untuk menghela nafas, dan ku kayuh lagi nurani semangatku tuk melangkah kembali. Bersama asa yang aku genggam erat, kan aku toreh jutaan mimpi yang ingin aku capai. Berlalu kenangan dan berlalu pula beribu alasan, kenapa aku tak ingin berhenti untuk meraihnya.Sampai saatnya nanti aku tak akan membiarkan kakiku ini mati kaku tanpa harapan yang sempat aku gapai. Siang dan malampun akan menjadi saksi, bahwa aku tak hanya bersandiwara dalam gerilya ini. Aku tak akan meragu akan semua rintangan yang bajal aku hadapi.

Gebrakan pintu itu terdengar cukup keras, cepat-cepat dia menutupnya kembali dan tersungkur lemah. Celotehan yang biasanya terdengar itu telah hilang beberapa saat dari mulut Sofi. Sofi sekarang sedang tak ingin menjadi tokoh penggembira, dia sedang menjalani skenario tentang kesedihan.
Tok..tok...terdengar ketukan pintu dari Nuri. Sambil mengusap air matanya, Sofi perlahan membukanya. Terlihat raut muka Nuri yang begitu khawatir melihat kondisi teman dekatnya itu.
“Kamu kenapa Sof, Azil lagi?”, Nuri mencoba mendekati Sofi yang kala itu kembali diperaduannya. Sambil, melihat Nuri Sofi hanya terdiam. Membaca alur cerita yang telah ia baca sebelumnya.
“Iya, soal Azil....”.Sofi akhirnya mengeluarkan jawaban itu, dengan pipi yang kembali basah.
“Kenapa lagi dia, bukanya kemaren baru ketemu?”, tanya Nuri semakin cemas.
“Aku bingung, gimana nanggepin Azil. Dia terlalu misterius ri, Aku sulit ngebaca bahasanya. Dia cuek, dia berasa hilang gitu aja. Udah lebih dari dua pekan Azil gak nghubungin, bahkan kalaupun sempat bicara dia tanggapannya pasti dingin”. Gerutu Sofi, yang memuat aor matanya semakin deras.
Nuri mencoba menenangkan Sofi, dengan mengelur pundaknya. Sambil memperhatikan Sofi yang terus menangis Nuri mencoba membuatnya tenang.
“Masa, dia sekarang malah hubungan sama cewek Ri, sakit hati rasanya. Kalau kaya gini caranya kenapa dulu dia harus ngungkapain perasaannya, disaat aku sekarang bisa nerima dia malah dia ngilang gini. Udah terlalu dalam Ri, fikiranku buat mikirin dia, buat ngebaca tingkah laku dia.”, lanjut Sofi yang terus mengeluarkan butir-butir air matanya.
“Udah sabar. Sekarang gini, mending kamu ngomong baik-baik sama dia. Tanya apa maksudnya selama ini, siapa tau kalian Cuma salah paham. Ya kan?”, Masukkan Nuri meyakinkan Sofi.
Tanpa pikir panjang, Handphone itu diraihnya. Membuka layar kosong untuk menuliskan sebuah pesan pendek.
Azil : #Azil...kamu lagi sibuk gak,aku pengen tanya sesuatu sama kamu.
Sofi : #Azil kayaknya kita salah paham
Azil : #Iya aku juga gitu Fi, Menurutmu salah pahamnya dimana. Mungkin kita beda
Sofi menjelaskan panjang lebar, mulai dari malam waktu Azil minta bantuannya buat mbungkus kado itu, sampai Azil menjauh dua pekan lebih darinya.
Azil : #Fi, aku juga ngerasa gitu. Aku pikir waktu kamu bahasanya cuek, kamu emang bener-bener pengen ngejauh dariku. Yasudah aku pikir kamu memang butuh waktu sendiri, dan gak mau aku ganggu.
Suasana waktu itu awalnya begitu menegangkan dimana Sofi yang sibuk memutar otaknya untuk menuliskan bahasa yang pas, dan Nuri yang memberi ide buat Sofi gimana kata-kata yang sesuai buat jelasin ke Azil apa yang terjadi. Tiba-tiba Sofi terlihat senyum-senyum sendiri, sambil mengangkat handphone ditunjukkan kepada Nuri,
Azil : #Fi jujur aku emang suka kamu
Senyum itu merekah lagi dari bibir Sofi, ternyata kesalahpahaman mereka dimulai dari ego mereka yang tak ingin mengalah satu sama lain. Padahal dibenak Azil terlihat kalau rindu itu sebenarnya juga ada. Dinding ruangan itu seakan bergemuruh, memeluk dekapan hangat yang empunya.Ya itulah Sofi, yang sekarang merasa dikembalikan kepada dunianya yang hilang. Setidaknya dia masih beharap kalau Azil memang masih menyimpan namanya.

Mengembalikan senyumku, menyambut duniamu. Untuk raga yang sempat terpental. Iringan tangis itu pun lanjut terhenti. Aku bahagia, menemukanmu walau usang. Aku senang ketika mengembalikanmu dalam tenang.

Kesalahpahaman itu ternyata satu bukti Tuhan, untuk aku rasakan tentang makna kehilangan. Aku mencoba berbahasa, merangkai artian kata. Tanpa kejadian itu mungkin aku tak pernah tau bagaimana hadirmu yang sebenarnya. Biarkan cinta ini mengalir dengan lembut. Bersamamu...

Senin, 17 Desember 2012

Salah Paham 2

Bagaimana aku mencoba berpijak pada tempat yang tak salah
Dan aku pun mulai mendekat disaat jarak kita yang tak jauh
Kau pun mulai menatap dengan indah
Pancaran matamu yang membuatku lemah
Dan akhirnya aku pun mulai mengikuti alur jiwamu

Jarak hubungan antara Sofi dan Azil semakin menjauh, entah apa sebab dari masalah ini. Sofi pun tak tau harus bagaimana menyikapi sikap Azil yang seakan bungkam. Kebingungan yang dialami Sofi semakin menjadi-jadi ketika dia harus melihat perbincangan Azil dengan wanita lain di akun twitternya. Dia semakin bingung, bingung menghadapi seorang pria yang selama ini membuat hari-harinya berwarna. Tak tau lagi bagaimana cara mencairkan hubungan itu lagi, terlihat tegas membeku, tanpa sentuhan hangat dan sapaan manis antara mereka berdua.

“Apa aku sedang dipermainkan”, gumamnya.

Layar itu tak lagi menyala, kotak masuk itu tak lagi tertera nama Azil. Sudah sepekan ini Azil menghilang dari kehidupan Sofi, entah apa rencana Azil yang menjadikannya menjauh dari Sofi.
Seperti orang linglung, Sofi terus dan terus memeikirkan Azil. Sampai akhirnya dia harus memberankikan dirinya untuk memulai, mencoba mengubah keadaan. Mungkin dengan cara ini Sofi bisa mengembalikan sikap Azil yang dingin.

        Seperti hembusan angin, yang datang dan berlalu kemudia. Usaha Sofi untuk ramah pun tak sanggup mengetuk hati seorang Azil, begitu keras. Setiap ada kesempatan ia bisa berpapasan dengan Azil, Sofi selalu melakukan pendekatan-pendekatan lebih awal. Namun hanya balasan datar yang dapat Azil suguhkan. Sofi menangis, menangis bukan karena tak berhasil meluluhkan hati Azil dan membuatkan kembali seperti dulu.Tapi menangis, terlalu sulit baginya membaca sikap Azilyang begitu sulit dimengerti.

o0o

-- Azil aku punya salah ya sama kamu
Pesan singkat itu kembali dikirimkan Sofi ke nomor Azil, tak lama kemudian balasan itu pun datang, namun tetap saja sikap Azil yang begitu dingin.

--Nggak kok Sof, mungkin aku yang salah

Sofi, kenapa harus dia yang mencari. Kenapa harus dia yang memulai, kenapa harus dia dia dan dia yang melakukn semua ini. Hanya dipermainkan oleh seorang lelaki, dengan semua teka teki. Hanya bisa berdiri tanpa pijakan yang pasti. Keadaan dimana dia harus kehilangan cinta, dan sekarang menemukan orang yang mempermainkannya. Entah apa rahasia di balik ini semua. Sofi mencoba biasa, mungkin memang benar bahwa pria itu sulit untuk dibaca fikirannya.

Awalnya saya ragu dengan rasa anda
Dengan membaca embun yang menetes hebat
Memperhatikan gerakan angin yang begitu abstrak
Saya lebih ragu dengan rasa anda
Walau sapaan itu hanya diam
Dan meninggalkan kenangan
Sebuah parodi yang pernah anda pentaskan
Mencoba menggugah hati yang sedang mati kaku ini
Usaha anda yang lugu, serta cara anda merayu
Membuat saya terhibur walau hanya sejenak
Dan kemudian selasai
Meninggalkan sesuatu
Dan begitu sangat membekas
Anda sedang pergi meninggalkan ruangan kosong
Dan saya merasa semakin ragu
Ragu tentang anda, tentang rasa anda
Baiklah...
Saya menyerah
Menyerah untuk menyeru anda beserta rasa anda
Biarkan saya biarkan hanyut
bersama aliran air
Dan saya juga pergi untuk memikul angan
Tentang rasa yang pernah anda tawarkan
Yang menurut saya begitu meragukan
Anda memang seorang pemain sirkus
             Bernyawa tapi hanya mempunyai bayangan

Salah Paham 1



-- Sofi kamu hari ini pulang?
-- Sofi naik apa?
-- sofi hati-hati di jalan ya

Pesan Azil mengagetkannya saat memandang pedagang asongan di tempat itu. Hari ini Sofi pulang ke rumah orang tuanya, setelah tiga minggu tak sempat berkunjung untuk melepas rindu. Dengan sedikit malas Sofi membalas pesan singkat  dari Azil, yang dia tunggu-tunggu dari kemarin. Nada balasannya pun terkesan cuek, dan perbincangan mereka via pesan singkat itu hanya terjadi dalam hitungan menit.

Sebenarnya aku rindu, tapi aku tak mampu berucap
Sebenarnya aku ingin memeluk senyummu, tapi aku tak sempat
Yasudah, aku ikut alurmu saja. Kalau kamu diam aku juga diam

o0o

Satu hari, dua hari, tiga hari tak ada satupun kabar dari Azil. Tak ada sapaan itu lagi tak ada senyuman Sofi tentang Azil. Sofi juga tak berusaha menghubungi Azil di kala itu.

Cintamu sebenarnya hanya angin
Yang berhembus sebentar dan lenyap
Bersama dengan udara dan melayang hilang
Ketika cintamu hanya seperti api
Kamu terus menyala
Tapi lupa bagaimana memadamkannya
Seketika menggebu-gebu
Tapi setelah itu membakar dengan sangarnya
Dan harus meninggalkan debu
Tapi mereka dengan mudahnya terbang
Tak mungkin jika harus seringan itu

Aku rindu Azil.. rindu semuanya tentangmu... tapi aku tak kuasa mengawali untuk menyapamu Zil.. aku menunggumu saat itu...

o0o

Langkah itu begitu berat untuk Sofi tapaki ketika mulai memasuki asrama. Selama tiga hari dia harus mengistirahatnkan fikirannya dari kehidupan kampus. Cukup baginya mengindahkan dari beban tugas-tugas menumpuk dari dosen. Ransel dan satu buat tas tenteng ia bawa dengan gaya sempoyongan menuju kamar pribadinya. Sapaan demi sapaan Sofi trima dari penghuni yang lain, sambil membuka pintu kamar Sofi meletakkan barang-barangnya disamping meja kecil itu. Perlahan kamar itu terbuka, mencoba merebahkan dengan nada lemas sambil memeluk guling kesayangannya.
Sore itu, ramai asrama sudah mulai terdengar. Sofi terbangun dari tidur karena kelelahan. Merapikan rambut dan lagi, mencoba melirik layar hp. Berharap ada Azil dan Azil, namun kekecewaan itu melandanya kembali. Azil begitu jauh sekarang, tak lagi mampu membuat Sofi tertawa seperti hari kemaren.

o0o

Berkutik dengan tugas lagi, aktifitas Sofi malam itu. Yang kemudian harus dibuyarkan oleh kelip-kelip cahaya yang keluar dari layar handphonennya. Dengan cepat Sofi mengambilnya, membuka dan ya, pesan dari seorang Azil yang selama ini menghilang.

-- I've dreamed of you last night

Glek.., Sofi terbungkam. Tak ada senyuman sedikit pun yang ia ciptakan. Hanya bisa memandang layar tanpa kedipan. Bingung, mungkin iya. Apa maksudnya Azil tiba-tiba sms seperti ini. Ketidakpahamannya membuatnya menuis balasan pada Azil.

-- Maksudnya apa Zil?

Setelah mengirim pesan itu, raut muka Sofi masih terlihat seperti orang linglung tanpa alasan yang jelas. Pandangannya masih tertuju pada pesan Azil tadi. Tak menunggu waktuyang lama, tanda bahwa ada pesan masuk itu berbunyi lagi.

-- Aku memimpikanmu

Sofi hanya terperanga melihat balasan dari Azil. Jantungnya berasa mau copot, getarannya membabi buta. Terlalu banyak ekspresi yang dia ingin ungkapkan waktu itu. Sofi memang merasa senang karena Azil yang diharapkannya datang untuk menyapanya kembali, tapi dilain pihak dia harus merasakan kesepian yang ternyata berhasil membuatnya sakit waktu itu. Bermacam fikiram-fikiran yang tak layak muncul dengan sengaja, alhasil malam itu hanya sikap acuh Sofi terhadap Azil muncul. Bahkan saling membalas pesan-pesan pendek itu pun hanya terjadi dalam selang waktu yang sebentar.
 
 
Blogger Templates