Social Icons

Selasa, 02 April 2013

Perbedaan Kepribadian

-          Kepribadian adalah pola perilaku dan cara berfikir yang khas yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan (Atkinson, dkk, 1996). Orang cenderung bertindak atau berfikir dengan cara tertentu dalam berbagai situasi.  Adanya sebuah karakteristik yang membedakan satu individu dengan individu yang lain.
Terdapat dua model dalam meninjau perbedaan kepribadian :

1.       MODEL BIG FIVE
Model ini diajukan oleh Lewis Goldberg (1993), berikut lima model dimensi kepribadian “big five” :
a.      Extroversion
-  Individu Extrovert : menikmati keberadaannya bersama orang lain, penuh energi, mengalami emosi positif, antusias, suka berbicara, menegaskan diri, menunjukkan perhatian terhadap diri mereka sendiri.
-   Individu Introvert : kurang bahagia, kurang energi, aktifitas rendah, tenang, cenderung menarik diri dari dunia sosial, mereka membutuhkan stimulasi yang rendah dan memilih sendiri.
-  Secara biologis, Extroversion berhubungan dengan peningkatan sensitivitas terhadap mesolimbic dopamine system yang berpotensi memperkuat stimuli à perasaan positif yang tinggi à gembira pada reward yang potensial.

b.      Agreeableness
-    Merefleksikan perbedaan individual yang berhubungan dengan kerjasama dan harmoni sosial.
-  Individu Aggreeable : bergaul dengan baik, penuh perhatian, bersahabat, dermawan, suka menolong, mau menyesuaikan keinginannya dengan orang lain, memiliki pandangan yang optimis tentang kemanusiaan. Aggreeable kurang pas dalam situasi yang membutuhkan keputusan-keputusan yang objektif.
-   Individu disagreeable : menempatkan keinginannya di atas orang lain, tidak memperhatikan keberadaan orang lain, mudah curiga, tidak bersahabat, kurang kooperatif. Namun mereka bisa menjadi seorang ilmuan, kritikus, atau tentara yang baik.


c.       Conscientiousness
-  Conscientiousness berkaitan dengan cara kita mengontrol, mengatur, dan memerintah impuls.
- Berhubungan dengan disiplin kerja, berminat terhadap pelajaran, berkonsentrasi, memandang belajar sebagai seuatu yang mudah (Schouwenburg, 1996).
- Siswa ini menggunakan pendekatan strategis yang bagus dalam mengorganisasikan pekerjaan mereka, dapat mengatur waktu, serta belajar keras. Mereka juga memiliki tujuan yang jelas dalam belajar. Mereka memiliki motivasi intrinsic dan sikap belajar yang baik (Enswistle, 1988).
-  Individu yang impulsive dapat dilihat orang lain sebagai orang yang penuh warna, menyenangkan dan jenaka. Orang bertipe ini akan menghindari kesalahan dan mencapai kesuksesan tingkat tinggi melalui perencanaan yang penuh tujuan, gigih dan cerdas dan dapat dipercaya. Namun dari segi negatif mereka mempunyai sifat perfeksionis dan pekerja keras yang kompulsif. Terlihat kaku dan membosankan.
- UnConscientiousness memiliki sifat sulit dipercaya, kurang ambisi, cepat menyerah, akan tetapi mereka mempunyai kesenangan jangka pendek dan tidak pernah dicap kaku.

d.      Neoroticism atau sebaliknya stabilitas emosional
-       Neoroticism menunjuk pada kecenderungan untuk mengalami emosi negatif.
-       Orang yang skor neoroticismnya tinggi :-
  Memiliki perasaan negatif à cemas, marah, depresi, Reaktif secara emosional,  Merespon secara emosional peristiwa-peristiwa yang akan mempengaruhi sebagian orang, reaksi mereka cenderung lebih kuat.  Reaksi emosi negatif mereka cenderung menetap untuk jangka waktu yang lama sehingga mereka lebih sering merasakan bad mood.  Dapat diatasi dengan berfikir jernih, membuat keputusan, serta mengatasi stress secara efektif.
-       Orang yang skor neoroticismnya rendah : 
   Tidak mudah terganggu dan kurang reaktif etrhadap emosional, Cenderung tenang, stabil emosinya, bebas dari emosi negatif yang menetap
-     Frekuensi emosi positif merupakan komponen domain konsentrasi, extraversi.
-  Neoroticism berkaitan dengan kekurangan konsentrasi, takut salah, penuh tekanan.
-     Neoroticism berhubungan dengan kekurangan kemampuan kritis dan masalah bagaimana sesuatu berhubungan satu sama lain.
-       Neoroticism berhubungan dengan gaya belajar yang dangkal
- Siswa tipe ini berkonsentrasi terhadap apa yang diingatnya tanpa memperhatikan arti atau memahami materi. Mereka hanya mengejar ujian namun tidak berminat dengan mata pelajarannya itu sendiri (Enswistle, 1988).

e.       Opennes to experience
-   Opennes to experience Adalah dimensi kepribadian yang membedakan orang yang kreatif dan imanjinatif dengan orang yang sederhana dan konvensional.
-  Orang yang terbuka adalah orang yang secara intelektual selalu ingin tahu, memiliki aspresiasi terhadap seni, serta sensitive terhadap keantikan lebih menyadari perasaan à memegang keyakinan individualistik dan tidak konvensional
- Low Opennes to experience : mempunyai minat yang sempit dan biasa, sederhana, terus terang, licik, membingungkan, melihat seni dan ilmu pengetahuan dengan curiga,sulit mengerti usaha keras.
-    Orang yang tertutup
- Memilih sesuatu yang sudah dikenal baik dibandingkan hal yang baru
- Mereka konservatif dan resisten terhadap perubahan
-      Opennes berkaitan dengan tanya jawab dan analisis argumen-argumen
- Berhubungan dengan evaluasi kritis, pencarian literature, pembuatan hubungan/pendekatan (Blickle, 1996)
-    Siswa dengan pendekatan mendalam ingin menemukan arti yang dalam dari suatu teks. Mereka kritis, logis, dan mdenghubungkan apa yang mereka pelajari dengan pengetahuan mereka sebelumnya.

2.       Model Brigg-Myers (MBTI)
-    (Isabel Brigg Myers dan Katharine C. Briggs) mengembangkan teori berdasarkan teori Carl jung, dia menyimpulkan terdapat empat cara utama untuk membedakan satu orang dengan orang yang lain. Dia menyebut perbedaan ini pilihan, yang menggambarkan suatu persamaan terhadap pilihan tangan.
-  Meskipun kuta semua menggunakan dua tangan kita, sebagian besardari kita memilih satu diantara tangan yang lain, dan tangan tersebut memainkan peranan penting dalam banyak aktifitas yang menggunakan tangan.
-      Berikut empat model dimensi kepribadian “Big four” :


a.      Extraversion (E) versus Introversion (I)
-   Individu intovert :
- Menemukan tenaga di dalam ide, konsep, dan abstraksi
- Dapat bersosialisasi tetapi mereka butuh ketenangan untuk mengisi tenaga mereka
- Memahami dunia
- Pemikir reflektif dan konsentraktor. Mereka menganggap tidak ada kesan tanpa refleksi
-    Individu ekstrovert :
- Menemukan energi pada orang dan benda-benda
- Perlu berinteraksi dengan orang lain,dan berorientasi pada tindakan
- Tidak ada kesan tanpa ekspresi
- Siswa belajar dengan menjelaskan pada orang lain. Merekamenikmati bekerja dalam kelompok, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

b.      Sensing (S) versus Intuition (N)
-   Sebagian dari kita ada yang menggunakan lima panca indera, ettapi ada juga yang menggunakan indera keenam dalam mencari informasi.
-    Orang sensing :
- Berorientasi pada detail
- Menginginkan fakta
- Mempercayai
-    Siswa sensing memilih pelajaran yang terorganisir, linier, terstuktur
-   Orang Intuitif :
- Mencari pola dan fakta-fakta yang diperoleh
- Percaya pada intuisi dan firasat mereka
- Contoh : Albert Einstein
-   Siswa intuitif menyukai pendekatan belajar discovery
-  Siswa sensing dan intuitif dapat digabung secara kelompok, sehingga mereka dapat menemukan prinsip-prinsip umum. Siswa sensing dapat menemukan teori sedangkan siswa intuitif dapat membantu mengidentifikasi dan menyusun fakta-fakta dalam percobaan
- Siswa intuitif dan siswa sensing harus mempunyai gambaran besar dalam memahami pelajaran yang saling berhubungan dan dapat mengembangkan peta-peta konsep secara rasional.

c.       Thingking (T) versus Feeling (F)
-   Sebagian dari kita memutuskan sesuatu secara impersonal pada logika, prinsip dan analisis ada lagi yang memusatkan pada nilai-nilai kemausiaan.
-     Siswa thingking :
- menghargai kebebasan
- Membuat keputusan dengan  mempertimbangkan kriteria objektif, logika dan situasi
- Menyukai tujuan pembelajaran atau topik yang jelas
-    Siswa Feeling :
- Menghargai harmoni
- Memusatkan nilai-nilai dan kebutuhan manusia dalam membuat keputusan
- Menyukai bekerja dalam kelompok
-   Mereka pandai dalam persuasi dan memfasilitasi perbedaan diantara anggota kelompok

d.      Judging (J0 dan Perceptive (P)
- Sebagian dari kita suka menunda pekerjaan dan mencari lebih banyak informasi atau data.
- Individu Judging : optimis, penuh rencana, mengatur diri, fokus dalam menyelesaikan tugas, hanya ingin mengetahui esensi, bertindak cepat. Mereka menganggap deadline sangat penting dalam tugas mereka.
-     Siswa Judging sering menutup cepat ketika menganalisis kasus.
-   Individu Perceptive : selalu inign tahu, dapat menyesuaikan diri, spontan, tidak seperti judging orang perceptive lebih longgar dalam hal tugas.
-   Siswa perceptive sering menunda suatu tugas sampai menit-menit terakhir.
-  Merekatidak malas akan ettapi mereka mencari informasi di saat-saat etrakhir.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
 
Blogger Templates